GEMPA BUMI di PADANG : MOVEMENT of SUMATRAN FAULT

Kalo dalam wacana sebelumnya kita membahas rekaman seismicity di Pulau Sumatera (http://doddys.wordpress.com/2006/12/20/menelaah-rekaman-seismicity-pulau-sumatera/) maka wacana kali ini ditujukan untuk membahas rekaman seismicity terakhir yang terjadi di Pulau Sumatera. Rekaman seismicity ini terjadi tepatnya kemarin pada tanggal 6 Maret 2007 dimana gempa bumi telah terjadi di Padang, Sumatera Barat tepatnya lagi di dekat Danau Singkarak.

dextral_sumatran.jpgLokasi dan mekanisme dari gempa bumi yang terjadi kemarin sangat konsisten dengan gempa-gempa yang terjadi sebelumnya di sekitar patahan Sumatra. Seperti kita tahu di Pulau Sumatera terdapat satu patahan yang sangat besar dan sangat panjang. Panjang patahan geser menganan (dextral strike slip fault) ini sampai sekitar 1900 km mulai dari offshore Andaman dan menerus ke tenggara ke provinsi Lampung. Patahan Sumatra ini sangatlah mudah dikenali dari foto udara, citra satelit, dan data-data lainnya. Dari foto udara yang saya dapat dari Google earth juga bisa kita prediksi dimana letak dari patahan tersebut. Letak dari patahan ini dapat dilihat dari kelurusan gunung api yang ada di Pulau Sumatra mulai dari Gunung Seulawah Agam di Aceh, Toba di Sumatera Utara, Gunung Marapi dan Talang di Sumatera Barat, Gunung Kerinci di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi, Gunung Sumbing, sampai Gunung Hulubelu di Lampung. Bahkan kelurusan danau juga menunjukkan adanya kesamaan letak dengan patahan Sumatra ini. Dimulai dari Danau Toba di Sumatra Utara, Danau Maninjau dan Danau Singkarak di Sumatera Barat, Danau Kerinci di Jambi, sampai Danau Ranau di Lampung.

eq_density_alldepths.gifDaerah yang dilalui patahan tersebut berpotensi besar terjadi gempa bumi baik itu dalam skala kecil maupun besar. Sepanjang sejarah yang tercatat, daerah yang dilalui patahan Sumatra paling tidak terjadi gempa bumi dengan skala 5 atau lebih sekali dalam setahun. Komponen dari pergerakan lempeng Australia dan lempeng Eurasia diakomodasikan dalam jumlah yang relatif besar oleh pergerakan patahan geser menganan dari patahan Sumatra.

intensity.jpgDalam gempa bumi yang terjadi kali ini di sekitar Danau Singkarak, episenter gempa yang terjadi ternyata di tepi sebelah barat laut Danau Singkarak. Gempa bumi yang lebih besar juga pernah melanda daerah tenggara dari episenter gempa bumi yang sekarang. Gempa yang terjadi pada tanggal 8 dan 9 Juni 1943 tersebut berskala 7.2 dan 7.5 dan terjadi dalam selang waktu 7 jam antara gempa pertama dan kedua. Skala 7.5 adalah gempa bumi terbesar yang terjadi di patahan Sumatra sejak akhir abad 19. Keunikan lagi yang ada dalam gempa bumi yang baru saja terjadi di Padang ini adalah terjadinya gempa bumi yang sama letaknya dan hampir sama skalanya pada tanggal 28 Juni 1926. Jadi dalam waktu sekitar hampir 81 tahun terjadi gempa bumi yang hampir sama skalanya dan hampir sama episenternya. Berikut adalah data-data yang didapat dari USGS:

Magnitude 6.3
Date-Time – Tuesday, March 6, 2007 at 05:49:28 (UTC)
– Coordinated Universal Time
– Tuesday, March 6, 2007 at 12:49:28 PM
– local time at epicenter Time of Earthquake in other Time Zones
Location 0.458°S, 100.524°E
Depth 30 km (18.6 miles) set by location program
Region SOUTHERN
SUMATRA, INDONESIA
Distances 60 km (35 miles) NNE of Padang, Sumatra, Indonesia
150 km (95 miles) SW of Pekanbaru, Sumatra, Indonesia
420 km (260 miles) SSW of KUALA LUMPUR, Malaysia
930 km (580 miles) NW of JAKARTA, Java, Indonesia
Location Uncertainty horizontal +/- 10.2 km (6.3 miles); depth fixed by location program
Parameters Nst= 74, Nph= 74, Dmin=>999 km, Rmss=1.37 sec, Gp= 40°,
M-type=moment magnitude (Mw), Version=7
Source USGS NEIC (WDCS-D)

sumatera2.jpgCoba kita lihat lebih dekat dimana dan bagaimana gempa bumi yang terjadi di Padang tersebut. Dalam foto udara yang saya dapat dari Google Earth terlihat bahwa episenter dari gempa terdapat di tepi sebelah barat laut Danau Singkarak. Sebenarnya gempa bumi ini juga berpotensi menimbulkan tsunami di sekitar Danau Singkarak. Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Salt Lake – Utah dimana gempa bumi yang tejadi di sekitar danau mampu menimbulkan gelombang yang mampu menyapu daerah tepi danau sejauh lebih dari 50 meter.

depositionalsystem.jpgKeunikan yang juga dapat dilihat dari foto udara adalah adanya aliran sungai menuju danau yang letaknya hampir sama dengan letak patahan Sumatra. Aliran sungai yang menuju danau tersebut sepertinya dikontrol oleh adanya patahan Sumatra. Dengan adanya bukti tersebut menunjukkan bahwa daerah di sekitar sungai juga rawan terjadi bahaya tanah longsor yang besar kemungkinannya dipicu oleh pergerakan patahan Sumatra. Dan apakah terbentuknya danau Singkarak juga dikontrol oleh adanya patahan Sumatra yang dapat menciptakan suatu bentuk depresi dan akhirnya terbentuklah danau? Patahan San Andreas di California juga menunjukkan proses yang sama dimana patahan San Andreas tersebut dapat menciptakan bentuk depresi. Sepertinya semua bentuk-bentuk geologi yang ada di sekitar episenter baik itu sungai, danau, dan juga gunung api dikontrol oleh adanya patahan Sumatra yang melintas daerah tersebut.

Pergerakan patahan Sumatra ini merupakan manifestasi dari pergerakan lempeng Austalia yang menyusup ke dalam lempeng Eurasia dimana sebagian besar energi dari pergerakan lempeng-lempeng tersebut dipindahkan ke pergerakan patahan Sumatra. Pemindahan energi dari lempeng yang bertumbukan tersebut dimaksudkan untuk mengakomodasikan tumbukan bersudut (oblique convergent) dari lempeng Australia dan lempeng Eurasia.

Semua ini sebenarnya adalah proses-proses alam yang bisa kita dipelajari dan dapat pula dibuat rencana mitigasi untuk mencegah kejadian-kejadian buruk yang dapat terjadi akibat proses alam ini.

Referensi :

<!–
google_ad_client=”pub-4590132121868991″;
google_ad_host=”pub-1556223355139109″;
google_ad_width=300;
google_ad_height=250;
google_ad_format=”300x250_as”;
google_ad_type=”text_image”;
google_color_border=”FFFFFF”;
google_color_bg=”FFFFFF”;
google_color_link=”632035″;
google_color_url=”C88FA2″;
google_color_text=”BA476B”;
//–>
window.google_render_ad();

Mengenal Gempa Bumi dan Tsunami

var timestamp = “9:07 AM”;
if (timestamp != ”) {
var timesplit = timestamp.split(“,”);
var date_yyyy = timesplit[2];
var timesplit = timesplit[1].split(” “);
var date_dd = timesplit[2];
var date_mmm = timesplit[1].substring(0, 3);
}

Posted by bolehtau in Geografi.
trackback

Pergerakan lempeng (sumber: tempointeraktif)Gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter yang melanda Sumatra pada 12 September 2007 lalu menambah panjang daftar catatan gempa besar di Indonesia. Tercatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Indonesia telah digoyang gempa besar sebanyak 7 kali. Satu yang paling hebat adalah gempa Aceh pada 26 Desember 2004. Sebenarnya apa sih penyebab gempa bumi itu?
Ada beberapa penyebab gempa bumi. Pertama karena pergerakan magma dalam gunung berapi biasa disebut gempa vulkanik. Kedua karena pergeseran lempeng-lempeng bumi, (gempa tektonik). Ketiga karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam. Contoh kasusnya adalah Dam Karibia di Zambia, Afrika. Keempat karena injeksi atau akstraksi cairan dari dan ke dalam bumi. Contoh kasusnya biasanya terjadi pada beberapa pembangkit tenaga listrik panas bumi. Kelima, disebabkan oleh bahan peledak atau disebabkan oleh manusia (seismitas terinduksi).
Umumnya di Indonesia gempa pada dua tipe pertamalah yang banyak terjadi.

Pelepasan Tenaga
Penyebab gempa bumi yang paling sering adalah karena pergeseran lempengan bumi (Tektonik). Gempa tektonik terjadi karena gerakan dari berbagai lempengan bumi baik besar maupun kecil yang membentuk kerak bumi. Lapisan kerak bumi yang keras menjadi genting (lunak) dan akhirnya bergerak. Teori dari “Tektonik Plate” menjelaskan, bumi terdiri atas beberapa lapisan batuan. Sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hampir sebagian besar gempa tektonik terjadi di perbatasan antara lempengan-lempengan pembentuk kerak bumi tersebut, seperti di lingkaran Pasifik. Kegiatan zone subduksi atau area tumbukan lempeng memegang peranan hampir 50 persen dari peristiwa seismik yang terjadi. Kegiatan zone subduksi ini terkonsentrasi di daerah yang dinamakan lingkaran api (ring of fire), sebuah pita sempit yang panjangnya sekitar 38.600 km. Panjang pita ini membentang dari Selandia Baru-Indonesia-Jepang-hingga Amerika Selatan.

Tsunami
Gempa hebat yang melanda dunia pada 26 Desember 2004 lalu diikuti tsunami. Peristiwa besar yang menewaskan 220 ribu jiwa yang menghuni sepanjang pesisir Samudera Hindia ini menimbulkan trauma dunia yang sangat dalam. Mengapa gempa berkekuatan 9,3 skala richter ini diikuti tsunami sedangkan gempa 12 September 2007 di Bengkulu kemarin tidak? Padahal pusat gempa sama-sama di laut dan kedalamannya dangkal. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan ketajaman tumbukan.
Pada gempa Bengkulu sudut penunjamannya landai. Jadi untuk menimbulkan tsunami butuh energi yang lebih besar. Titik pusatnya hanya 10 km di bawah permukaan laut,
sehingga belum mencapai lantai samudera.
Tsunami sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jepang. Menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 – 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.
Berdasarkan Katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik.
Tsunami biasanya terjadi dalam rentang 3-60 menit setelah gempa. Ditandai dengan surutnya air laut dan terbangnya puluhan bahkan mungkin ratusan burung-burung laut ke arah daratan. Selain itu juga akan tercium bau garam.
Tak semua gempa tektonik di dasar laut menyebabkan tsunami. Banyak faktor yang jadi penyebab. Seperti kekuatan dan kedalaman pusat gempa. Karena itu bila dalam rentang waktu satu jam setelah gempa, kamu tak melihat tanda-tanda seperti di atas, yakinlah insya Allah tak ada tsunami.(.a11.ugm/bmg/bppt/kompas/wikipedia/balipost).

SISTEM TATA SURYA (Alam Semesta)

fma1600.jpgaccretion16002.jpgcompanion16001.jpgcampfires16001.jpg

Dalam Tata Surya, terdapat sembilan planet besar dengan 61 satelit dan asteroid yang tak terhitung jumlahnya, semuanya berevolusi mengelilingi satu bintang yang bernama matahari. Matahari terletak di pusat Tata Surya.

Sembilan planet ini, yang merupakan bagian dari Solar system (Tata Surya), saling berevolusi mengelilingi matahari dalam sebuah keteraturan. Mari kita ingat kembali nama-nama planet dari yang terdekat dengan matahari: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Jadi, bumi kita adalah planet ke-tiga dari matahari.

Setiap planet di Tata Surya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Suhu pada beberapa planet cukup tinggi untuk meleburkan sesuatu. Sedangkan ada diantaranya yang permukaannya tertutup oleh es. Beberapa planet hampir seluruhnya terdiri atas gas. Bahkan beberapa planet berukuran kecil seperti bulan.

Terdapat hubungan yang sangat harmonis antara satelit dengan induknya. (Dalam astronomi, induk adalah sesuatu yang benda lain berkeliling terhadapnya. Matahari adalah induk dari bumi, bumi adalah induk dari bulan). Planet menarik satelit-satelitnya. Satelit juga mengimbangi tarikan tersebut. Tanpa kesetimbangan tersebut, satelit akan menumbuk planet atau pecah dan menghilang angkasa.

Singkatnya, jika bulan berotasi lebih lambat, ia akan tersedot bumi dengan kecepatan sangat tinggi. Ini akan menjadi akhir kehidupan bumi. Dan jika ia berotasi lebih cepat, ia akan menjauh dari bumi dan tak menjadi satelit bumi lagi.

Sekarang mari kita amati matahari, pusat Tata Surya kita.

sunflower1600.jpgsol1600.jpgscorched1600.jpg

Matahari

Matahari adalah benda langit terbesar di Tata Surya. Ia terdiri atas gas yang sangat panas dan berpijar. Setiap detik, terjadi ledakan diseluruh permukaannya, matahari sendiri merupakan bom nuklir yang sangat besar. Ledakan di permukaannya sama dengan energi yang dipancarkan oleh jutaan bom atom. Mereka menghasilkan kobaran-kobaran api yang besarnya 40 hingga 50 kali besar bumi.

Matahari bagaikan bola api yang memancarkan panas dan cahaya yang sangat kuat dari permukaannya. Jika tidak ada matahari, sepanjang hari akan gelap, dan permukaan bumi akan tertutup es. Yang pasti, tidak akan ada kehidupan di bumi ini.

Ruang angkasa (ingatlah kembali film mengenai ruang angkasa) adalah tempat yang gelap, sangat luas, dan kosong. Bumi kita adalah salah satu benda langit di dalamnya, dan tak tidak ada satupun yang cukup dekat untuk menerangi dan memanaskan bumi kita. (Subhanalloh)

Sinar matahari sangatlah terang. Mungkin kamu pernah mencoba menatap matahari di siang yang cerah. Setelah beberapa detik, matamu akan merasa silau bukan? Karena cahayanya yang sangat terang, menatap matahari secara langsung sangat berbahaya bagi mata. Demikian pula berjemur di terik matahari dalam waktu lama di musim panas juga berbahaya. Beberapa bagian kulit kita akan terbakar, dan hanya bisa disembuhkan oleh dokter. Terutama di musim panas, matahari sangatlah panas. Tetapi, jarak matahari jutaan kilometer jauhnya dari bumi kita, dan hanya seper dua ribu dari panas matahari yang sampai di bumi.

Jika suhu bumi cukup panas meskipun jarak matahari dan bumi sangat jauh, dapatkah kamu bayangkan panasnya matahari?

Para ilmuwan sudah memperkirakan besarnya. Namun, kita tidak akan mampu membayangkannya dengan mencoba membandingkannya dengan suhu benda-benda yang kita kenal di bumi. Anggap suhu permukaan matahari adalah 6,000°C (11,000°F). Di bagian tengahnya bisa mencapai 12,000,000 o C (21,600,000o F). Tak ada benda panas mana pun di bumi yang dapat dibandingkan dengannya. Tanganmu sulit menyentuh air yang panasnya 50°C (120°F). Bahkan pada cuaca yang panas, suhunya hanya sekitar 40–50°C (105-120°F). Contoh ini menunjukkan bahwa Allah mengatur dengan sangat tepat jarak antara bumi dengan matahari. Jika matahari sedikit saja lebih dekat dengan kita, segala sesuatu di bumi ini akan layu dan kering karena panasnya dan berubah menjadi abu. Sebaliknya, jika ia sedikit lebih jauh, segala sesuatu akan membeku. Tentu saja, tidak akan ada kehidupan pada keduanya.

Daerah kutub, yang sedikit menerima panas matahari, selalu tertutup oleh es. Sedangkan daerah katulistiwa, dimana sinar matahari yang diterima jauh lebih banyak, selalu panas. Allah telah menciptakan daerah tersebut sebagai contoh untuk kita. Daerah lainnya lebih sesuai untuk hidup manusia. Hal ini menunjukkan karunia Allah kepada kita. Karena, jika Allah tidak menentukan jarak antara bumi dengan dan matahari dengan tepat, kita akan lebih sulit untuk hidup di bumi. Bahkan bisa jadi tak ada lagi kehidupan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan, Allah menciptakan Matahari dan Bulan dengan sangat sempurna agar manusia dapat hidup di planet ini. Dalam Al Qur’an, Allah memberitakan bahwa matahari dan bulan bergerak atas perintah Allah:

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Surat ar-Ra’d: 2)

Gaya Tarik Gravitasi Matahari

Benda langit yang tak terhitung jumlahnya bergerak teratur secara sempurna tanpa saling bertubrukan karena Allah menempatkan mereka ke dalam orbitnya dengan tepat. Orbit adalah lintasan sebuah planet atau komet ketika berevolusi terhadap matahari. Tak satu pun planet yang berhenti mengikuti lintasan ini kecuali hilang di angkasa raya. Semua ini karena planet-planet mengalami gaya gravitasi matahari. Ketika kamu membaca tulisan ini, bumi kita bergerak dalam orbitnya dengan kecepatan 108,000 kilometer (700,000 mil ) per jam mengelilingi matahari. Penjelasan berikut mungkin dapat membantumu membayangkan kecepatannya yang dahsyat: kecepatan maksimal sebuah mobil kira-kira 200 kilometer (125 mil) per jam. Artinya kecepatan rotasi bumi mengelilingi matahari adalah 540 kali kecepatan mobil. Contoh lain adalah sebuah peluru bergerak 1,800 kilometer (1,100 mil) per jam. Kecepatan rotasi bumi mengelilingi matahari adalah 60 kali kecepatan peluru.

Karena tingginya kecepatan bumi, gaya tarik gravitasi matahari menjadi sangat penting. Jika matahari mengurangi kekuatan gravitasinya, kita akan melayang-layang di angkasa bersama bumi kita. Hal ini akan mengakhiri keberadaan bumi …

Di sisi lain, jika matahari menambah besar gaya gravitasinya, bumi kita akan tersedot oleh matahari dan melebur. Tentunya kita pun akan musnah. Selain itu, gaya tarik gravitasi matahari juga menjaga planet-planet dalam lintasan/orbit yang benar sehingga terhindar dari tabrakan antar sesamanya. Namun, pernahkah kamu bayangkan bagaimana matahari menarik planet-planet tersebut?

Jawabannya sangat jelas. Adalah Allah Sang Pencipta, Yang Agung dalam Keperkasaan-Nya, Yang menciptakan dan senantiasa memelihara keseimbangan ini.

Selain itu, tidak hanya matahari yang memiliki gaya tarik gravitasi. Planet-planet di Tata Surya juga memiliki gaya gravitasi sendiri-sendiri. Misalnya, gaya gravitasi bumi terhadap bulan. Karena gaya gravitasi ini, bulan terus berada pada jarak tertentu. Karenanya, bumi tidak bertabrakan dengan bulan. Tak diragukan, Allah dengan KekuasaanNya yang maha luas telah mencegah Bulan menimpa Bumi.

Ada gaya gravitasi lain yang mirip dengan matahari, yang khusus dirancang untuk kehidupan manusia. Ia adalah gaya gravitasi bumi yang memberi kita berat badan. Gaya gravitasi, yang kita ketahui sebagai berat badan kita, membuat kita tetap berada di muka bumi dengan kemampuan berjalan dan berlari dengan mudah tanpa melayang ke angkasa.

Bayangkan sebuah bola di tanganmu. Apa yang terjadi ketika kamu melepaskannya? Bola itu jatuh, bukan? Karena gaya gravitasi menariknya ke tanah. Namun, jika kamu tinggalkan bola itu di angkasa raya, bola itu tak akan jatuh karena gaya gravitasi disana lebih kecil. Oleh karena itu, keberadaan gaya gravitasi yang lebih besar di bumi sangat penting bagi kita.

Masih ada satu hal penting lain mengenai gravitasi: Gravitasi tidak boleh melebihi ataupun kurang dari yang seharusnya. Jika kurang, kamu akan berjalan di udara, dan tak mampu menyentuh lantai dengan kakimu. Kamu tak akan bisa bergerak seperti yang kamu mau; kamu selalu melayang dari satu tempat ke tempat lain, akan memantul ketika melangkah dan menjejakkan kaki di langit-langit. Jika gaya gravitasi lebih besar, kamu tak akan mampu berjalan karena kamu terperosok ke dalam tanah. Maka, kamu hanya akan bisa merangkak pelan sepanjang jalan.

Saat ini, yang terjadi tidaklah demikian; Allah telah menentukan kekuatan gaya gravitasi yang tepat bagi kita.

Contoh berikut mungkin akan membantu kamu memahaminya: bulan, seperti halnya bumi, juga memiliki gaya gravitasi. Namun, gaya tarik gravitasi ini lebih kecil dari pada yang dimiliki oleh bumi. Karena itu, kamu tidak mungkin dapat bertahan di bulan. Kamu mungkin pernah menyaksikan di TV bagaimana seorang astronot berjalan di bulan. Dapatkah kita terus hidup dengan cara demikian? Tentu saja tidak.

Sekarang marilah kita lanjutkan perjalanan kita dengan mengunjungi planet-planet yang berada di dalam wilayah pengaruh gravitasi matahari.

bumi-kita2.jpgbumi-kita.jpgbumi-kita3.jpg

Planet

Telah disebutkan sebelumnya bahwa planet adalah benda langit yang berevolusi mengelilingi bintang. Dibagian ini, akan kita amati planet-planet di tata surya dimana bumi kita berada. Jika kita menganggap bahwa tata surya adalah lingkaran, matahari tepat di tengahnya.

Pluto adalah planet di lingkaran terluar. Pluto adalah planet terkecil dan terjauh dari matahari. Sangat sulit mengamati planet ini, bahkan teleskop Hubble hanya mampu menunjukkan sekilas permukaannya. Planet ini sungguh merupakan tempat yang dingin. Suhunya sekitar -238 o C (-396 o F). Di musim dingin, ketika suhu permukaan bumi sekitar -2 atau -3 o C (28 atau 26 o F), maka akan membeku. -238 o C (-396 o F) adalah 100 kali lebih dingin daripada suhu bumi terdingin untuk kita bisa hidup walau sulit. Kedinginan itu akan mengakhiri hidup kita. Dari sisi luar, Pluto nampak seperti bola yang tertutup es.

Mendekati matahari, kita akan menjumpai Neptunus. Planet ini juga sangat dingin; suhu permukaannya sekitar -218°C (-360°F). Atmosfernya mengandung gas yang beracun bagi manusia. Disamping itu, badai yang kecepatannya mencapai 2.000 kilometer (1,250 mil) per jam bertiup di permukaannya.

Bergerak kembali ke matahari, di tengah-tengah lingkaran, kita temui Uranus. Uranus adalah planet terbesar ke-tiga di Tata Surya. Suhunya -214oC (-353oF), berarti planet ini sudah cukup dingin untuk membekukan kita dalam sedetik. Atmosfirnya mengandung gas beracun yang tentunya tidak akan memberikan kehidupan.

Jika perjalanan kita teruskan ke arah matahari, akan kita jumpai Saturnus. Ia adalah planet terbesar kedua dalam tata surya, dikenal dengan cincin yang melingkarinya. Cincin ini terbuat dari gas, batu-batuan, dan es. Suhu planet ini sekali lagi tidak sesuai bagi kehidupan manusia: -178°C (-288°F).

Semakin mendekati matahari, kita berjumpa dengan Jupiter, planet terbesar dalam Tata Surya. Jupiter adalah planet yang besarnya 11 kali planet bumi. Keadaan planet ini pun tidak sesuai untuk hidup, dan merupakan tempat yang sangat dingin.

Setelah Jupiter adalah Mars. Mars adalah planet mati yang tidak pernah dibandingkan dengan bumi. Tidak ada kehidupan di Mars. Ada beberapa alasan: Pertama, atmosfir Mars merupakan campuran mematikan yang mengandung karbon dioksida pekat. Kedua, tak ada air disana. Ketiga, suhu di Mars sekitar -53oC (-63oF). Terakhir, terdapat angin yang sangat kuat serta badai pasir yang terjadi setiap saat.

Planet biru yang muncul setelah Mars adalah Bumi. Kita akan membicarakannya di bab terakhir buku ini. Sementara itu, ingatlah anak-anakku, Bumi adalah satu-satunya planet yang memungkinkan bagi adanya kehidupan.

Semakin dekat ke matahari, pencarian kita akan sampai di planet Venus. Venus merupakan bintang paling terang setelah matahari dan bulan. Karena itulah, manusia telah mengenalnya sejak lama. Meskipun planet-planet yang sama jauhnya dengan Venus juga telah dikenal oleh manusia, Venus memiliki terang yang tak tertandingi baik pada waktu pagi maupun malam. Kebalikan dari planet-planet lain, Venus sangat panas. Suhu permukaannya mencapai 450oC (840oF), cukup untuk meleburkan segala sesuatu. Ciri lain dari Venus adalah ketebalan atmosfirnya yang terdiri atas lapisan karbon dioksida. Selain itu, atmosfir Venus memiliki lapisan asam setebal beberapa kilometer. Tidak ada satupun makhluk hidup yang dapat hidup disana walau sedetik.

Kita tinggalkan Venus, kita temui Merkurius, planet yang paling dekat dengan Matahari. Rotasinya sangat lambat karena dekat dengan matahari sehingga planet tersebut hanya membuat tiga putaran penuh selama dua kali berevolusi mengelilingi matahari. Inilah mengapa salah satu sisi Merkurius sangat panas sedangkan sisi lainnya sangat dingin. Perbedaan malam dan siang pada Merkurias sebesar 1,000oC (1,800oF). Tentu saja lingkungan seperti ini tak mendukung adanya kehidupan.

Perjalanan kita sejauh ini menunjukkan bahwa selain bumi, tak ada satupun planet di Tata Surya yang memungkinkan bagi kehidupan. Semuanya tidak memiliki kehidupan dan tak berpenghuni. Namun, Bumi kita adalah planet yang menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup. Dengan hijaunya hutan dan birunya laut, ia nampak sangat cantik dari angkasa. Astronot pertama yang sampai di bulan kagum oleh pemandangan penuh warna dan cerah yang dimiliki bumi kita.

winterborn1600.jpg

Benda Langit Lainnya

Benda langit lain di Tata Surya adalah komet, asteroida, dan meteorit. Semuanya adalah benda-benda langit yang tersisa dari nebula ketika pembentukan Tata Surya empat sampai enam milyar tahun yang lalu.

– Komet terbentuk dari gas dan debu-debu terpadatkan. Kadang-kadang, orbitnya membawa mereka mendekati matahari. Ketika komet mendekati matahari, permukaannya menjadi menguap karena panas. Penguapan ini menimbulkan cahaya terang. Bola besar dari gas dan debu muncul disekitar inti. Bola gas dan debu ini disebut “coma.” Terdapat juga ekor gas dan debu yang terhubung ke “coma”.

– Meteor adalah batu-batuan di angkasa. Biasanya, mereka teramati di antara orbit Mars dan Yupiter. Beberapa diantara mereka, diameternya mencapai 1,000 kilometer (620 mile).

– Meteorit adalah benda langit padat yang jatuh ke bumi dari angkasa. Kepingan batu, atau campuran batu dan besi, terpisah dari meteor atau komet. Misalnya suatu ketika bumi melintasi awan debu yang tersisa dari komet, benda dalam awan debu tersebut akan terbakar di atmosphere. Mereka terbakar ketika memasuki atmosfer bumi dan meninggalkan garis terang cahaya di langit. Inilah yang dinamakan meteor. Kadang-kadang, jika mereka tidak habis terbakar, meteor akan menumbuk bumi. Meteor-meteor yang dapat mencapai bumi dinamakan aerolit atau meteorit.

Renungkanlah satu hal penting di sini: meteor yang mencapai atmosphere kadangkala bisa sampai di bumi. Saat mereka jatuh, kerusakan yang diakibatkannya berbeda-beda, tergantung pada besarnya. Bumi kita sangat mungkin kejatuhan meteor setiap saat, akan tetapi Allah telah menciptakan mereka secara khusus sehingga mereka selalu terbakar dan musnah di atmosphere sehingga tidak membahayakan kita. Allah melindungi kita dengan menunjukkan kemurahan dan kasih sayangNya.

Sekarang kamu harus yakin bahwa Allah mengendalikan semua benda-benda langit, yang kecil maupun besar, dan memerintahkan mereka setiap saat dengan terencana dan teratur.



KEHANCURAN BUMI (KIAMAT) TAHUN 2053?

Planet Impact (Tabrakan Planet)

    Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan – gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya (Al Furqaan : 61). ALLAH telah menciptakan jutaan atau milyaran atau bahkan lebih banyak bintang dalam langit ciptaan-NYA. Kumpulan bintang – bintang kemudian kita sebut dengan nama “Galaxy”. Terdapat banyak galaksi yang hanya ALLAH saja yang tahu jumlahnya. Salah satunya adalah galaksi dimana Bumi kita berada di dalamnya. Pusat dari galaksi kita adalah Matahari. Dengan kuasa ALLAH diciptakan-NYA benda – benda langit dan planet berputar mengelilingi Matahari. Kumpulan planet yang bergerak mengelilingi Matahari, kemudian kita sebut dengan nama “Solar System” (Tata Surya). Begitu pula dengan galaksi lain yang memiliki pusatnya sendiri. Putaran planet terhadap pusat galaksi, kemudian kita kenal dengan nama “Orbital” (Orbit). Jika kita rajin mendengar keterangan – keterangan dari web NASA, mereka pernah mengatakan bahwa sudah banyak planet yang berbalik arah putar, jika pada planet Bumi kita ini Matahari “masih” terbit dari arah timur, maka beberapa tahun ini terdapat fenomena baru yang menurut mereka planet lain sudah mulai berbalik arah dan matahari terbit dari arah barat. Dari sisi ilmiah, inilah pertanda akhir zaman mendekati kiamat, sebagaimana petunjuk dari Rasullullah SAW.

    perputaran

    Planet X ini tertarik / ditarik oleh gaya grafitasi Matahari yang besar dalam tata surya kita, sehingga kemudian ia masuk ke dalam orbit planet – planet dalam keadaan berbalik arah, dan suatu masa nanti planet X akan bertabrakan dengan Bumi. Ilmuwan menyebut 50 tahun lagi planet X (Nibiru) ini akan memasuki orbit tata surya kita, sejak ia ditemukan tahun 2003 lalu. Berarti kiamat boleh terjadi pada 2053? ALLAH-lah pemilik-NYA. Manusia hanya diberi mata, otak dan akal untuk melihat tanda – tanda kebesaran ALLAH SWT.

    Bencana dahsyat bumi itu diperkirakan karena Planet X melintasi tata surya. Planet X pada masa ini memang sedang melewati orbit bumi. Planet X itu adalah Planet humongous (tak terkira besarnya) yang memiliki massa seratus kali lipat lebih besar daripada bumi. Inti magnetisnya sedemikian dahsyat kekuatannya sehingga bertabrakan dengan medanmedan magnet planet lain dalam tata surya

    Matahari yang mengatur medan magnet bumi terhalang oleh lintasan Planet X. Gerakan Planet X yang memasuki tata surya telah menyebabkan inti bumi memanas akibat adanya tambahan gerakan berputar di dalamnya. Saat inti bumi terpengaruh menyelaraskan dirinya dengan ekuilibrium yang ada dalam tata surya, inti bumi yang memanas itulah yang membawa pada pola-pola cuaca yang tak dapat diperkirakan dan meningkatkan aktifitas gunung-gunung berapi serta seismic.

    Jika benar tabrakan ini yang mengawali kiamat, maka itu ALLAH SWT jua lah yang menghendakinya. Dan jika warta berita menurut ilmuwan itu SALAH, maka hendaklah kita ambil sebagai renungan dan iktibar serta muhasabah kita kepada ALLAH, sebagaimana telah banyak ayat-ayat-NYA dalam Al Quran yang mengatakan hal seperti itu. Kita diminta oleh Rasullullah SAW untuk membaca, memelihara dan menyebarkan Al Quran. Perkara kiamat adalah mutlak milik ALLAH SWT saja yang tahu, bukan urusan kita. Yang penting bagi kita adalah menyiapkan bekal untuk menghadap ALLAH. Sudah banyakkah amal ibadah kita kepada-NYA???


    Tahukah Anda, Ada Apa di Luar Angkasa Sana…

    Mungkin dari kita belum pernaha ada yang ke luar angkasa. Tapi, dengan belajar TIK kita akan tau apa yang ada di luar angkasa sana. Bener loh. Loh…kok bisa? Tentu bisa! karena dengan TIK kita dapat mengetahui berbagai ilmu tentunya dengan memanfaatkan JAringan INternet.

    Angkasa Luar

    Angkasa Luar

    Dunia Planet di Luar Tata Surya yang Penuh Warna

    http://www.erabaru.or.id/images/duniaplanet.jpg

    Perbandingan antara sistem bintang tetap super (atas) dan sistem matahari (bawah) (Sumber foto : NASAS/JPL)

    “Temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa dunia di luar angkasa memang penuh warna”

    Di alam semesta banyak terdapat sistem yang mirip dengan galaksi kita, dan dalam setiap “galaksi” juga banyak terdapat bintang tetap seperti matahari. Namun, apakah di sekeliling bintang-bintang tetap itu ada planet seperti bumi kita ini? Dan apakah ada kehidupan seperti kita di sini? Sambil membawa soal-soal ini, belakangan ini para peneliti terus mencari jejak planet di luar tata surya.

    spideroldman

    Sejak ditemukannya “51 Pegasi B” planet pertama di luar galaksi pada 1995 silam, yang mana selama 11 tahun ini telah ditemukan 200 lebih planet di luar galaksi. Lebih-lebih pada 2006 lalu, para astronom dari berbagai daerah di dunia telah menemukan 20-30 planet di luar galaksi, banyak sekali fenomena, di mana kesemuanya itu belum pernah ditemui sebelumnya. Meski di antara planet-planet ini ada beberapa yang masih perlu diteliti dan di pastikan lebih lanjut, namun temuan-temuan ini cukup untuk mengetahui proses pembentukan planet dan galaksi, serta mencari kehidupan di luar planet bumi.

    Sistem tata surya “super”
    Laporan majalah astronomi pada February 2006 lalu menyebutkan, bahwa teleskop angkasa Spitzer NASA berhasil mengamati 2 bintang tetap super, di sekitarnya dikelilingi dengan struktur piring debu dengan ukuran raksasa, dapat dikata sebagai “tata surya” super.

    Yang paling menggembirakan adalah ditemukan lagi piring debu raksasa di sekeliling 2 bintang tetap, menurut ilmuwan, bahwa ini adalah sistem planet yang ada atau yang akan segera terbentuk. Dan di masa lalu para ilmuwan meyakini bahwa di sekitar bintang tetap yang demikian besar itu tidak akan bisa menjadi planet

    Benda langit ganjil, tidak mirip bintang tetap maupun planet.
    Baru-baru ini astronom asal Kanada kembali menemukan dua benda langit yang ganjil, mereka tidak dapat dimasukkan ke dalam sistem planet ataupun bintang tetap, sehingga astronom mau tidak mau menyebut kedua benda langit ini sebagai “benda langit substansi planet”.

    Menurut laporan BBC, bentuk kedua benda langit ini nyaris sama, jaraknya 400 tahun cahaya dari bumi. Meskipun cara pembentukan mereka mirip dengan bintang tetap, yakni terbenuk dari awan gas susutan pendingin, namun karena suhunya terlalu dingin, lebih dingin dari bintang tetap yang sesungguhnya, karena itu tidak termasuk kategori bintang tetap. Lagipula massa masing-masing dari mereka hanya 1% dari matahari kita.

    Massa mereka mirip dengan sejumla besar planet, satu di antaranya adalah 14 kali lipat dari massa-nya Jupiter, dan satunya lagi adalah 7 kali lipat massa Jupiter, tapi karena cara pembentukan mereka tidak sama dengan planet lainnya, juga tidak berputar mengelilingi sebuah bintang tetap seperti planet lainnya, melainkan saling berputar mengelilingi satu sama lain, karena itu tidak dapat dikategorikan sebagai planet. Peneliti dibuat bingung terhadap bagaimana mereka itu terbentuk.

    Astronom asal Kanada menuturkan, bahwa eksistensi kedua benda langit ini membuatnya terkejut. “Temuan baru-baru ini menujukkan bahwa dunia di luar angkasa memang multi ragam, keberadaan mereka dan nasibnya di masa mendatang juga merupakan sebuah misteri.”

    “Bumi supra”
    Kebanyakan planet di luar galaksi merupakan planet gas seperti Jupiter, namun yang membuat peneliti tertarik adalah planet padat batuan seperti bumi, sebab benda langit demikian lebih memungkinkan melahirkan kehidupan.

    Laporan BBC pada awal Maret 2006 lalu menyebutkan, bahwa astronom menemukan sebuah benda langit yang disebut “bumi supra”, adalah sebuah benda langit es dan batuan yang tersingkap, dengan massa 13 kali lipat dari bumi. Dan planet ini berada di luar 9.000 tahun cahaya, berputar mengelilingi sebuah bintang tetap yang setengah lebih besar dari matahari. dengan suhu permukaan yang ekstrem rendah, hanya 201 derajat di bawah nol O derajat celcius.

    Awal Januari 2006 sebelumnya, majalah natural memberitakan bahwa di kawasan pusat yang berdekatan dengan galaksi ditemukan sebuah planet yang besarnya 5 kali lipat dari bumi, jaraknya 28.000 tahun cahaya dari bumi, dan berputar mengelilingi sebuah bintang cebol merah yang mirip matahari. Dan ini adalah “bumi di luar galaksi” terkecil yang ditemukan ketika itu.

    Dalam sebuah pertemuan astronomi yang diselenggarakan di Colorado, Amerika Serikat pada 7 Februari 2006 silam, astronom mengumumkan menemukan sebuah planet di luar tata surya, massanya hanya 1/5 dari massa Pluto, sistem planet tersebut persis seperti sebuah tata surya yang mengecil.

    Planet yang besar dan enteng menantang teori pembentukan planet
    Pada September 2006 lalu website majalah science memberitakan, bahwa astronom menemukan sebuah planet di luar tata surya baru yang besar, tapi, masanya lebih ringan dari perkiraan sebelumnya, ini membuat ilmuwan terpaksa memeriksa kembali terhadap teori pembentukan planet.
    Planet terbaru yang ditemukan ini jaraknya kurang lebih 450 tahun cahaya dari bumi, dan disebut HAT-P-1, adalah planet terbesar di luar tata surya yang ditemukan hingga saat ini.

    Yang mengejutkan ilmuwan adalah ukuran planet ini lebih besar 1,5 kali lipat dari Jupiter, tapi bobotnya hanya setengahnya Jupiter. Menurut teori pembentukan planet saat ini, bahwa benda langit yang demikian besar tapi sangat ringan ini tidak seharusnya eksis. Dalam konperensi pers-nya, astrofisikawan Robnerto Nois mengatakan : “kami telah menemukan sebuah benda langit baru yang sangat unik, dan ia benar-benar membingungkan kami.”

    Pakar dari NASA menuturkan, bahwa ketika planet lahir bentuknya sangat besar dan bersuhu tinggi, tapi jika hendak mempertahankan kondisi demikian perlu energi, karena itu setelah planet terbentuk bukan saja suhunya akan turun tapi ukurannya juga akan mengecil. Masalah pada planet baru ini adalah suhu yang dipertahankannya sendiri tapi tidak menyusut, ini berarti ia memiliki sejumlah besar energi panas internal yang berkesinambungan sehingga membuat segenap benda langit memuai, tapi ilmuwan merasa bingung dengan sumber energi tersebut.

    Planet ini sangat dekat dengan bintang tetap yang berputar di sekitarnya, jaraknya dengan bumi hanya 10.5 tahun cahaya, karena itu, ini juga merupakan planet terdekat yang ditemukan saat ini. Satu pekan ia berputaran mengelilingi mataharinya sendiri adalah 6.9 tahun cahaya. Temuan ini sekaligus membuktikan bahwa planet muncul pada piring debu di sekitar bintang tetap.

    Juga pada awal oktober 2006 lalu , para astronom secara serentak mengumumkan tentang 16 planet yang ditemukan teleskop Hubble NASA. Mereka berada di kawasan pusat galaksi kita. 5 di antaranya sama sekali berbeda dengan planet yang sudah diketahui, mereka dengan cepat berputar mengelilingi bintang tetap mereka, dan sekali merampungkan revolusinya tidak sampai satu harinya bumi, sehingga disebut planet siklus dengan revolusi super singkat.

    Paling cepat bisa dalam waktu 10 jam merampungkan perputarannya mengelilingi bintang tetapnya. Sebab jarak planet ini dengan bintang tetapnya hanya 740 ribu mil jauhnya, dan planet tersebut tergolong sejenis planet yang paling panas, suhu permukaannya diperkirakan sekitar 3.000o fahrenheit.

    Planet terestrial tersebar di angkasa
    Oleh karena planet lebih kecil, dan tidak memancarkan cahaya, jadi tidak begitu mudah mengamatinya. Biasanya astronom menggunakan dua gejala astronomis untuk secara tidak langsung mengamati planet di luar tata surya.

    Einstein pernah mengemukakan, bahwa ketika bergerak ke bintang tetap, efek gravitasi akan seperti lensa memperbesar benda langit di bagian belakang, sehingga tampak lebih terang ketika diamati, inilah efek dari “lensa gravitasi”. Selain itu, ilmuwan juga bisa membuktikan keberadaan mereka dari fakula (daerah yang terang di permukaan matahari) yang melintasi bintang tetap dari planet, dan inilah yang disebut “gejala transit”.

    Seiring dengan semakin banyaknya ditemukan planet di luar galaksi, para ilmuwan juga semakin meyakini bahwa planet terestrial ini tersebar di mana-mana di angkasa. Dengan menggunakan komputer ilmuwan AS mensimulasi proses pembentukan planet, dan hasilnya menunjukkan bahwa di antara planet yang dekat di luar tata surya yang ditemukan hingga saat ini, mungkin terdapat 1/3 planet yang mirip dengan bumi, diselimuti oleh samudera dan cocok untuk kehidupan.

    Di saat yang sama, ilmuwan asal Jerman juga menemukan materi dari periode awal di antara batuan yang jatuh ke bumi tersebut terdapat struktur kehidupan, ini menunjukkan bahwa di luar angkasa terdapat prasyarat kehidupan.


    Tata Surya


    Gambaran umum Tata Surya (digambarkan tidak sesuai skala; dari kiri ke kanan): Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Yupiter, sabuk asteroid, Matahari, Merkurius, Venus, Bumi dan Bulan, dan Mars. Sebuah komet digambarkan di sebelah kiri.
    Tata surya (bahasa Inggris: solar system) terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.
    Tata surya dipercaya terbentuk semenjak 4,6 milyar tahun yang lalu dan merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilinginya.
    Tata surya terletak di tepi galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk.
    Tata surya dikekalkan oleh pengaruh gaya gravitasi matahari dan sistem yang setara tata surya, yang mempunyai garis pusat setahun kecepatan cahaya, ditandai adanya taburan komet yang disebut awan Oort. Selain itu juga terdapat awan Oort berbentuk piring di bagian dalam tata surya yang dikenali sebagai awan Oort dalam.
    Disebabkan oleh orbit planet yang membujur, jarak dan kedudukan planet berbanding kedudukan matahari berubah mengikut kedudukan planet di orbit.

    Asal Usul Tata Surya
    Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :

    Hipotesis Nebula

    Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.

    Hipotesis Planetisimal

    Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.

    Hipotesis Pasang Surut Bintang

    Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.


    Hipotesis Kondensasi

    Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.

    Hipotesis Bintang Kembar

    Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.

    Sejarah penemuan

    Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.
    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia “lebih tajam” dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.
    Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
    Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
    Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya
    Pada 1781, William Hechell (1738-1782) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930.
    Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.
    Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
    Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.

    Daftar jarak planet

    Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:
    57,9 juta kilometer ke Merkurius

    108,2 juta kilometer ke Venus

    149,6 juta kilometer ke Bumi

    227,9 juta kilometer ke Mars

    778,3 juta kilometer ke Jupiter

    1.427,0 juta kilometer ke Saturnus

    2.871,0 juta kilometer ke Uranus

    4.497,0 juta kilometer ke Neptunus

    Terdapat juga lingkaran asteroid yang kebanyakan mengelilingi matahari di antara orbit Mars dan Jupiter.
    Karena rotasinya terhadap sumbu masing-masing, garis khatulistiwa menjadi lingkar terpanjang yang terdapat di setiap planet dan bintang